PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR FISIKA LISTRIK DINAMIS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DENGAN LEMBAR KERJA TERSRUKTUR (LKT) PADA SISWA KELAS IX A SMP NEGERI 2 BOYOLALI
TAHUN PELAJARAN 2008/2009
Oleh: Sunarto
(Pengawas SMP/SMA Kab. Boyolali)
Abstrak: penelitian ini dilaksanakan dengan latar belakang motivasi dan hasil belajar siswa pada materi pembelajaran listrik dinamis relatif rendah. Hal ini ditunjukkan dari hasil angket motivasi belajar dan hasil belajar siswa yang dilaksanakan sebelum tindakan (pra tindakan) bahwa tingkat motivasi siswa sebelum dilaksanakan relatif rendah (2,24) dan rata-rata hasil belajar siswa 65,87 < 67(KKM), serta persentase siswa yang tuntas belajar sebesar 53,65%<85%. Fokus kajian dalam penelitian ini adalah peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran listrik dinamis dengan model pembelajaran kooperatif Student Team Achiefment Division dengan Lembar Kerja Terstruktur (LKT). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Fisika khususnya listrik dinamis sehingga motivasi dan hasil belajar siswa meningkat. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus melalui kegiatan planning,acting, observing, dan reflecting. Subyek penelitian adalah siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Boyolali Tahun Pelajaran 2008/2009. Pengambilan data utama dilakukan dengan angket untuk mengetahui tingkat motivasi siswa, dan penilaian tes tertulis untuk mengetahui hasil belajar siswa. Sedangkan data pendukung diperoleh dengan lembar observasi dan tugas terstruktur siswa untuk mengetahui tingkat aktivitas siswa dalam pembelajaran di kelas dan hasil belajar siswa di rumah. Analisis data dilaksanakan secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif STAD dengan LKT mampu meningkatkan motivasi belajar siswa sebesar 34,37% dan hasil belajar siswa meningkat sebesar (19,19%) dengan pencapaian akhir ketuntasan belajar sebesar 85,36%
Kata Kunci: pembelajaran kooperatif STAD, LKT, motivasi, hasil belajar, dan listrik dinamis
PENDAHULUAN
Kondisi riil di lapangan yang dijaring melalui observasi dan wawancara dengan siswa ternyata diperoleh keadaan proses pembelajaran sebagai berikut: (1) variasi metodologi pembelajaran kurang (2)guru terfokus pada penyelesaian materi pembelajaran yang ditetapkan pada silabus dengan alokasi waktu yang tersedia; (3) posisi siswa sebagai subyek pembelajaran relative masih rendah, sehingga upaya memberi kesempatan pada siswa untuk berkembang secara aktif, kreatif, berfikir logis dan kritis belum optimal;(4) guru relatif masih mendominasi kegiatan pembelajaran; (5) interaksi timbal balik antara guru dengan siswa dan antara siswa sendiri belum maksimal; (6) penggunaan media pembelajaran masih rendah; (7) motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran fisika relatif rendah, sebab mereka masih mengangap fisika merupakan pelajaran yang paling sulit. Hasil nilai ulangan harian sebelum tindakan diperoleh nilai rata-rata ulangan harian sebesar 65,87 dan ketuntasan belajar sebesar 55,65% sehingga kurang memenuhi KKM yang ditetapkan yaitu 67,00 dan ketuntasan belajar kelompok sebesar 85%.
Berdasarkan kondisi riil di lapangan ternyata kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran fisika berakar dari kurang tepatnya guru menentukan pendekatan metode dan kurang bervariasinya model pembelajaran yang digunakan selama proses pembelajaran. Oleh karena itu diperlukan upaya peningkatan proses pembelajaran dengan menambah variasi model pembelajaran yang menarik, menyenangkan, lebih melibatkan aktivitas dan tanggung jawab siswa. Salah satu alternatifnya adalah menerapkan model pembelajaran kooperatif Student Teams Achievement Division (STAD).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian adalah:
1. Apakah dengan model pembelajaran kooperatif Student Teams Achievement Division (STAD) dengan sarana Lembar Kerja Terstruktur dapat meningkatkan motivasi belajar fisika bagi siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Boyolali Tahun Pelajaran 2008/2009?
2. Apakah dengan model pembelajaran kooperatif Student Teams Achievement Division (STAD) dengan sarana Lembar Kerja Terstruktur dapat meningkatkan hasil belajar fisika bagi siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Boyolali Tahun Pelajaran 2008/2009?
Tujuan penelitian ini adalah: (1) meningkatkan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran fisika khususnya listrik dinamis; dan (2).meningkatkan hasil belajar fisika siswa khususnya listrik dinamis.
LANDASAN TEORI
Pembelajaran Kooperatif
Menurut Mortarela (1994), bahwa pembelajaran kooperatif secara umum menyangkut teknik pengelompokkan yang di dalamnya siswa bekerja terarah pada tujuan belajar bersama dalam kelompok kecil yang umumnya terdiri dari lima atau enam siswa. Pembentukan kelompok didasarkan pada pemerataan karakteristik psikologis individu, yang meliputi kecerdasan, kecepatan belajar, motivasi belajar, perhatian, cara berfikir, dan daya ingat.
Senada dengan pendapat di atas, Richard L. Arends (1997) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif dapat dikelompokkan menurut bentuknya sebagai berikut: (1) siswa bekerja sama dalam kelompok untuk menguasai materi pelajaran; (2) kelompok siswa terdiri dari siswa berprestasi tinggi, sedang, dan rendah; (3) bila memungkinkan kelompok tersebut merupakan campuran dari jenis kelamin; dan (4) penilaian atau sistem penghargaan dengan berorientasi kelompok bukan berorientasi individu.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan teknik pengelompokan tertentu (siswa) yang di dalamnya siswa bekerjasama terarah, terpadu pada tujuan belajar bersama. Teknik pengelompokan tertentu berdasarkan pada tujuan belajar bersama yang ingin dicapai
Student Teams Achievement Division (STAD)
Menurut Slavin (1995), STAD (Student Teams Achievement Division) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang di dalamnya siswa dibentuk kedalam kelompok belajar yang terdiri dari lima atau enam anggota yang mewakili siswa dengan tingkat kemampuan dan jenis kelamin yang berbeda, atau kelompok ditentukan secara heterogen.
Lebih lanjut Slavin (1995), menyatakan bahwa STAD terdiri dari lima komponen utama, yaitu presentasi kelas, kelompok, tes, nilai peningkatan individu, dan penghargaan kelompok
Berdasarkan pernyataan Slavin di atas tahapan pembelajaran STAD adalah: (1) Guru menyampaikan materi dan tujuan pembelajaran secara singkat, (2) siswa bekerja dalam kelompoknya masing-masing sehingga semua anggota kelompok menguasai materi pelajaran yang diberikan, (3) siswa melaksanakan tes atas materi yang diberikan dan mengerjakan sendiri tanpa bantuan siswa lainnya, walaupun dalam satu kelompok., (4) Nilai tes yang mereka peroleh dibandingkan dengan nilai rata-rata yang mereka peroleh sebelumnya, dan (5) kelompok-kelompok yang berhasil memenuhi kriteria diberi nilai tersendiri sehingga nilai ini kemudian ditambahkan pada nilai kelompok.sebagai penghargaan.
Kelebihan STAD, antara lain : (1) siswa lebih mampu mendengar, menerima, dan menghormat orang lain; (2) siswa mampu mengidentifikasi akan perasaannya, juga perasaan orang lain, (3) siswa dapat menerima pengalaman dan dimengerti orang lain, (4) siswa mampu menyakinkan dirinya untuk orang lain dengan membantu orang lain dan menyakinkan dirinya untuk saling memahami dan mengerti, dan (5) mampu mengembangkan potensi yang berhasil guna, berdaya guna, kreatif, & bertanggungjawab.
Lembar Kerja Terstruktur (LKT) sebagai Sarana Penunjang Pemahaman Konsep dan Penemuan Rumus
Lembar Kerja Terstruktur (LKT) adalah sarana untuk kerja kelompok berupa lembar kerja siswa yang disusun berdasarkan urutan tahapan berfikir dan bekerja dari mudah ke sulit, dari sederhana ke kompleks sehingga siswa lebih mudah menemukan konsep, dalil, hukum, dan rumus. LKT ini dapat dikerjakan oleh siswa sendiri karena urutan penyajian dilengkapi gambar dan urutan kerja yang didesain mengarah kepada penemuan konsep dan penemuan rumus secara mandiri oleh kelompok. LKT akan merangsang siswa untuk malaksanakan kegiatan praktek laboratorium dengan referensi buku yang harus dibaca. Penemuan konsep dan rumus ini akan dimantapkan melalui presentasi oleh kelompok yang dilanjutkan dengan diskusi pleno yang difasilitasi oleh guru.
Motivasi Belajar Siswa
Menurut Steiner sebagaimana dikutip Sedarmayanti (2000:45) motivasi adalah kondisi mental yang mendorong aktivitas dan member energy yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan.
Sejalan dengan pendapat di atas, secara lebih tegas motivasi didefinisikan sebagai suatu hasrat di dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan tindakan (Mathis and Jackson, 2000: 89).
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis sebagai daya penggerak yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu kegiatan demi mencapai tujuan.
Menurut Sardiman (1996:35) siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dapat diketahui melalui aktivitas selama proses belajar, antara lain: 1) tekun menghadapi tugas, 2) ulet dan tidak mudah putus asa, 3) menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah, 4) lebih senang belajar mandiri, 5) cepat bosan terhadap rutinitas, 6) dapat mempertahankan pendapat, 7) tidak mudah melepas hal yang diyakininya, 8) senang mencari dan memecahkan kesalahan soal-soal.
Hasil (Prestasi) Belajar
Menurut Rohani (2004:178) Hasil belajar adalah umpan balik dari apa yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran.
Sejalan dengan pendapat di atas Anni (2004:4) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan perubahan yang diperoleh siswa setelah mengalami aktivitas belajar.
Kedua pendapat di atas diperjelas oleh E.Mulyasa (2005) bahwa Prestasi belajar secara keseluruhan yang dimaksud adalah meliputi derajat perubahan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil berupa perubahan ranah kognitif, afektif, atau psikomotor pada diri siswa setelah melaksanakan aktivitas proses pembelajaran.
Lebih lanjut E.Mulyasa (2005) mengatakan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar digolongkan ke dalam faktor sosial dan non sosial. Faktor sosial meliputi keluarga, guru, teman, dan masyarakat, sedangkan faktor non sosial meliputi lingkungan alam dan fisik misalnya: keadaan rumah, ruang belajar, fasilitas belajar, buku-buku sumber, dan sebagainya. Sedangkan faktor internal yang berpengaruh terhadap keberhasilan belajar menurut Brata (1984:249-252) mencakup: (1) factor-faktor fisiologis yang menyangkut keadaan jasmani pada umumnya dan keadaan fungsi-fungsi jasmani tertentu terutama panca indra; dan (2) factor-faktor psikologis, yang berasal dari dalam diri seperti intelegensi, minat, sikap, dan motivasi.
Sementara Makmun (1999) mengemukakan komponen-komponen yang terlibat dalam pembelajaran, dan berpengaruh terhadap prestasi belajar adalah: (1) masukan mentah (raw input) menunjuk pada karakteristik individu yang mungkin dapat memudahkan atau justru menghambat proses pembelajaran; (2) masukan instrumental menunjuk pada kualifikasi serta kelengkapan sarana yang diperlukan, seperti guru, metode, bahan atau sumber, dan program; dan (3) masukan lingkungan yang menunjuk pada situasi, keadaan fisik dan suasana sekolah, serta hubungan antar teman.
Hubungan STAD/LKT, dengan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa
Berdasarkan lima tahapan kegiatan STAD, memiliki peran cukup besar untuk membangkikan motivasi belajar siswa. Tahapan kerja kelompok untuk menguasai materi pelajaran, kemudian mengerjakan tes yang hasilnya dikompetisikan antar individu/antar kelompok, serta rangsangan penghargaan bagi kelompok yang mampu memenuhi kriteria tertentu sangat berpotensi untuk memacu peningkatan motivasi belajar siswa. LKT yang didesain untuk mendukung kerja kelompok akan lebih memudahkan siswa untuk memahami konsep dan menemukan rumus melalui kegiatan praktikum siswa. Lembar Kerja Terstruktur akan sangat berpengaruh terhadap motivasi dan semangat untuk menyelesaikan tugas kelompok yang harus diselesaikan.
Menurut E.Mulyasa (2005) menyatakan bahwa nntuk melancarkan belajar dan meningkatkan prestasi belajar, ada hal-hal perlu diperhatikan antara lain: (1) hendaknya dibentuk kelompok belajar, karena dengan belajar bersama peserta didik yang kurang paham dapat diberikan oleh peserta didik yang telah paham dan peserta didik yang telah paham karena menerangkan kepada temannya menjadi lebih paham; (2) semua pekerjaan dan latihan yang diberikan guru hendaknya dikerjakan segera dan sebaik-baiknya, karena tugas ini untuk latihan ekspressi yakni cara terbaik untuk penguasaan ilmu/kecakapan; (3) mengesampingkan perasaan negatif dalam membahas atau berdebat mengenai suatu masalah/pelajaran, karena perasaan negatif dapat menghambat ekspressi dan mengurangi kejernihan berpikir.
Berdasarkan pernyataan di atas hasil (prestasi) belajar siswa sangat dipengaruhi oleh bentuk pola kegiatan yang sebagian besar dimiliki model pembelajaran STAD yakni: (1) siswa bekerja sama dalam kelompok untuk menguasai materi pelajaran, (2) kelompok siswa terdiri dari siswa berprestasi tinggi, sedang, dan rendah, (3) bila memungkinkan kelompok tersebut merupakan campuran dari jenis kelamin, dan (4) penilaian atau sistem penghargaan dengan berorientasi kelompok bukan berorientasi individu. Demikian pula motivasi sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa seperti yang disampaikan Brata (1984:249-252) bahwa prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor internal siswa anatar lain faktor-faktor psikologis, yang berasal dari dalam diri seperti intelegensi, minat, sikap, dan motivasi.
Kerangka Berpikir
Berdasarkan kajian teori yang telah dikemukakan menunjukkan bahwa hasil belajar dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya faktor internal dan eksternal siswa. Faktor intern siswa antara lain motivasi belajar, aktivitas belajar, kondisi intelektual. Faktor ekstern yang turut mempengaruhi hasil belajar antara lain model pembelajaran, kondisi lingkungan, sarana pembelajaran, keluarga.
Faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi hasil belajar siswa yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah motivasi dan penggunaan model pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif STAD adalah pembelajaran yang memandang keberhasilan individu diorientasikan dalam keberhasilan kelompok. Dalam hal ini, maka motivasi siswa untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan dan bekerja keras membantu dan mendorong pada teman-temannya untuk bersama-sama berhasil dalam belajar akan semakin besar.
LKT sebagai sarana pendukung pembelajaran didesain sedemikian rupa untuk mempermudah kerja kelompok, sehingga pemahaman konsep dan penemuan rumus akan lebih mudah difahami dan mudah ditemukan secara bersama-sama
Berdasarkan karakteristik model pembelajaran kooperatif tipe Students Teams Achievement Division (STAD) terhadap factor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa khususnya mata pelajaran fisika yang didukung dengan LKT maka diduga penerapan model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa.
Pengajuan Hipotesis
Berdasarkan kerangka berfikir di atas, maka hipotesis penelitian adalah: melalui model pembelajaran kooperatif Students Teams Achievement Division (STAD) dengan sarana Lembar Kerja Tersruktur (LKT) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IXA SMP Negeri 2 Boyolali Tahun Pelajaran 2008/2009
METODOLOGI PENELITIAN
Subjek Penelitian
Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IX A SMP Negeri 2 Boyolali tahun pelajaran 2008/2009 yang terdiri 22 siswa putri dan 20 siswa putra. Pilihan pada kelas IX A karena hasil belajar fisikanya rendah.
Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini meliputi variable tindakan (X) yakni Penerapan Model Pembelajaran STAD dengan sarana LKT dan varibel masalah yakni Motivasi Belajar Siswa (Y1) dan Hasil Belajar Siswa (Y2)
Teknik dan Alat Pengumpul Data
Teknik pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik tes dan teknik non tes. Teknik tes digunakan untuk memperoleh data hasil belajar siswa pada pra tindakan dan pada tindakan di kedua siklus, sedangkan teknik non tes digunakan untuk memperoleh data motivasi belajar siswa dan data proses pembelajaran guru dan siswa dalam penerapan model pembelajaran STAD dan LKT sebelum, selama, dan sesudah tindakan.
Alat pengumpul data yang digunakan antara lain:(1) perangkat soal tes untuk siklus I dan Siklus II; (2) angket motivasi belajar siswa; dan (3) lembar observasi proses pembelajaran guru dan siswa
Validasi dan Analisa Data
Validasi data hasil belajar siswa dilakukan dengan cara penyusunan kisi-kisi soal tes sesuai pedoman dan aturan yang benar sebelum butir-butir soal tersebut dibuat. Sedangkan validasi data angket motivasi belajar siswa dan data proses pembelajaran guru dan siswa dilakukan dengan cara Triangulasi Sumber atau dikenal dengan kolaborasi oleh teman sejawat. Triangulasi Sumber dilakukan terhadap hasil penyusunan angket motivasi belajar dan lembar observasi aktivitas pembelajaran berdasarkan pedoman dan aturan penyusunan instrument yang baik dan benar.
Analisis data hasil belajar siswa (data kuantitatif) digunakan analisis deskriptif komparatif yaitu dengan membandingkan hasil tes berupa nilai rata-rata tes pada kondisi pra tindakan dengan nilai rata-rata tes pada siklus I dan siklus II untuk direfleksi pada pembelajaran berikutnya, sedangkan analisis data angket motivasi belajar siswa diolah dengan kriteria sabagai berikut: siswa yang menjawab setuju sekali (SS) diberi skor 4, setuju (S) diberi skor 3, kurang setuju (KS) diberi skor 2, dan tidak setuju (TS) diberi skor 1. Tingkat motivasi belajar siswa ditentukan dengan tingkat persetujuan siswa melalui penghitungan mean dari pengolahan isian angket semua siswa. Data observasi proses pembelajaran guru dan siswa oleh observer diolah dengan kriteria sebagai berikut: aktivitas sangat tinggi diberi skor 4, aktivitas tinggi diberi skor 3, aktivitas sedang diberi skor 2, dan aktivitas kurang diberi skor 1. Tingkat aktivitas belajar siswa ditentukan melalui penghitungan mean dari semua aspek pengamatan aktivitas pembelajaran
Indikator Kinerja
Indikator kinerja dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Tingkat motivasi belajar siswa tinggi
2. Sekurang-kurangnya 85% siswa memiliki tingkat pencapaian hasil belajar siswa ≥ 67
3. Tingkat proses pembelajaran model STAD dan LKT antara guru dan siswa tinggi
Desain Penelitian
Desain penelitian ini diawali dengan kegiatan pra tindakan dan dilanjutkan dua siklus tindakan masing-masing dengan empat tahap kegiatan yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Siklus II dilaksanakan berdasarkan hasil refleksi siklus I yang perlu ditingkatkan aspek-aspek proses pembelajaran model STAD yang belum optimal. Tahap pelaksanaan kegiatan penelitian adalah sebagai berikut:
Kegiatan pra tindakan, meliputi: (1) penyusunan instrumen berupa angket motivasi belajar siswa dan diedarkan ke subyek penelitian untuk menjaring tingkat motivasi siswa terhadap pembelajaran fisika sebelum tindakan; (2) Penyusunan instrumen observasi proses pembelajaran dan digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran pra tindakan dengan materi "arus listrik dan tegangan listrik" oleh observer; (3) Pendataan hasil ulangan harian materi pembelajaran "arus listrik dan tegangan listrik" untuk manjaring hasil belajar siswa sebelum tindakan
Perencanaan (Planning)
Kegiatan awal yang dilakukan adalah: (1) menyusun RPP tindakan siklus I dan II sesuai rencana tindakan dengan model pembelajaran STAD bersarana LKT dengan mengacu Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007 yakni meliputi pendahuluan, kegiatan inti (eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi), dan penutup; (2) menyiapkan alat, bahan, dan sarana pembelajaran; (4) menyusun kisi-kisi dan naskah soal tes hasil belajar siswa untuk siklus I dan II; dan (5) melakukan koordinasi dengan observer tentang pelaksanaan pengamatan siklus I dan II.
Pelaksanaan (Acting)
Kegiatan pembelajaran pada siklus I dan II masing-masing tiga kali pertemuan tiap pertemuan selama (2x40). Dua kali pertemuan untuk kegiatan pembelajaran dan satu kali pertemuan untuk tes hasil belajar. Materi pelajaran untuk siklus I "Hukum Ohm rangkaian arus listrik tertutup" dan siklus II "Hukum Ohm rangkaian arus listir tertutup dengan elemen seri dan parallel"
Observasi (Observing)
Observasi dilaksanakan pada saat tindakan dilakukan dan ditujukan kepada siswa dan guru baik pada siklus I maupun siklus II. Lembar observasi berupa instrumen yang digunakan menilai kegiatan siswa dan kegiatan guru dalam pembelajaran dengan model STAD dengan sarana LKT .Observer berada langsung di dalam kelas untuk
melaksnakan observasi sekaligus sebagai kolaborator.
Refleksi (Reflection)
Refleksi dilakukan terhadap hasil observasi yang dilaksanakan oleh observer. Kelemahan dan kekurangan yang ditemukan digunakan untuk pedoman menyusun perbaikan, sedangkan kekuatan dan kelebihan akan dipertahankan dan ditingkatkan intensitasnya.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHAS ANNYA
Hasil Penelitian
Hasil penelitian penerapan model pembelajaran STAD dengan penggunaan LKT yang dijaring dengan instrumen-istrumen penelitian melalui tahapan pra tindakan dan pelaksanaan tindakan pada siklus I dan siklus II dapat disajikan seperti terlihat pada tabel 1 di bawah ini:
Tabel.1
Hasil Penelitian
|
No |
Aspek Penilaian/Observasi | Pra Tindakan | Setelah Tindakan |
Peningkatan | |
| Siklus I | Siklus II | ||||
| 1 | Rata-rata Hasil Belajar Siswa Ketuntasan Belajar | 65,87 53,65% | 73.88 75,61% | 78.51 85,36% | 12,64 (19,12%) 31,71% |
| 2 | Motivasi Belajar Siswa | 2,24 | - | 3,01 | 0,77 (34,37%) |
| 3 | Proses Pembelajaran Model STAD sarana LKT: a. Belajar siswa b. Mengajar guru |
2,25 2,26 |
3.08 3,15 |
3,41 3,52 |
1,16 (51,55%) 1,26 (55,75%) |
Berdasarkan deskripsi data yang tersajikan pada tabel 1, maka dapat dijelaskan hasil penelitian sebagai berikut:
1. Hasil belajar siswa dari tes soal yang diujikan setelah siklus I dan siklus II menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan dibanding dengan rata-rata hasil ulangan harian terakhir sebelum tindakan dilakukan. Kenaikan rata-rata hasil tes dari pra tindakan ke siklus I sebesar 8,01, sedangkan pada siklus II dengan memperbaiki hasil refleksi siklus I terdapat kenaikan sebesar 4.63 Jadi total kenaikan dari pra tindakan ke siklus II sebesar 12.64(19,12%).Ketuntasan belajar yang semula dari pra tindakan sebesar 53.65% menjadi 75.61% pada siklus I menunjukkan kenaikan yang cukup besar yakni sebesar 21.96%, sedangkan ke siklus II terdapat kenaikan sebesar 9,75%, sehingga total kenaikan ketuntasan belajar siswa dengan tindakan penelitian ini sebesar 31,71 %.
2. Hasil angket motivasi siswa yang menjaring pendapat siswa tentang respon minat, keinginani, kesempatan, kebebasan berpendapat, dan kepuasan yang diperoleh siswa sebelum dan sesudah tindakan terdapat kenaikan dari rata-rata pendapat kurang setuju (2.24) menjadi setuju (3.01). Hal ini menunjukkan bahwa pendapat siswa yang semula rata-rata memiliki motivasi kurang terhadap proses pembelajaran, motivasinya meningkat 34,37% lebih tinggi ketika diberikan pembelajaran dengan model pembelajaran STAD bersarana LKT yang diterapkan dalam penelitian ini
3. Hasil observasi yang dilakukan salah seorang guru terhadapproses pembelajaran model STAD bersarana LKT menunjukkan kenaikan partisipasi aktif belajar siswa dari pra tindakan 2,25 (sedang) menjadi 3,08 (tinggi) pada siklus I, dan naik lagi menjadi 3,41 (tinggi) pada siklus II, sehingga total kenaikan sebesar 51,55% Demikian pula aktivitas mengajar guru meningkat dari 2,26 (sedang) pada pra tindakan menjadi 3,15 (tinggi) pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 3,52 (tinggi) pada siklus II, jadi total kenaikan 55,75%
(Dibaca Sebanyak 1992 kali)
